IPB University Kembangkan Varietas Sorgum untuk Atasi Masalah Gizi

Ilustrasi sorgum (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Senin, 1 Agustus 2022 | 11:30 WIB

Sariagri - Tim peneliti IPB University mengembangkan varietas sorgum untuk mengatasi masalah gizi ganda (MGG) di Indonesia. Tim peneliti tersebut yang berasal dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB Universitu, di antarnya yaitu Desta Wirnas, Trikoesoemaningtyas, Didy Sopandie, Siti Marwiyah, dan Erin Puspita Rini.

Rektor IPB University, Arif Satria mengatakan varietas yang dinamai Sorice ini bisa membantu mengatasi MGG di Tanah Air. MGG merupakan kondisi kekurangan gizi (malnutrisi) yang menyebabkan stunting. Tak hanya itu, MGG juga menyebabkan kelebihan gizi sehingga membuat obesitas dan munculnya penyakit degeneratif.

“Saat ini sebagian masyarakat mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) yang menyebabkan gangguan pertumbuhan seperti stunting. Sedangkan di sisi lain, sebagian masyarakat mengalami kelebihan gizi (over nutrition) yang menyebabkan obesitas dan berbagai penyakit degeneratif,” kata Arif, dikutip dari laman resmi IPB University, Senin (1/8/2022).

Arif mengatakan sorgum merupakan tanaman biji-bijian yang memiliki kandungan karbohidrat, protein, vitamin B, dan zat besi yang lebih tinggi dari beras.

"Dengan kelebihan ini harapannya, sorgum dapat membantu mengatasi masalah kekurangan zat gizi pada sebagian masyarakat Indonesia," tuturnya.

Kepala LPPM IPB University, Ernan Rustiadi mengungkapkan, inovasi hasil penelitian ini layak untuk langsung disebarluaskan ke khalayak, mengingat hasilnya yang sangat signifikan dan menjanjikan.

“Dunia saat ini sedang mengalami krisis pangan. Beberapa negara mengalami inflasi sangat tinggi. Indonesia sendiri harus bersyukur, lebih dari dua setengah tahun kita tidak mengimpor beras. Ini bagian dari keberhasilan negara kita,” ujar Ernan.

Pada kesempatan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dekan Fakultas Pertanian, Suryo Wiyono menjelaskan varietas merupakan tulang punggung dari teknologi produksi tanaman. Inovasi ini, menurutnya sangat penting bagi ketahanan dan program pangan, khususnya sorgum dan beras yang merupakan program pemerintah.

“Semoga kontribusi para peneliti dosen di bidang pemuliaan, khususnya sorgum dan padi ini, makin mendapat tempat bagi inovatornya, IPB University dan tentunya ketahanan pangan di Indonesia," ujar Suryo.

Desta Wirnas salah satu peneliti mengatakan bahwa sorgum dengan kandungan di dalamnya, sorgum dapat membantu mengatasi masalah kekurangan zat gizi pada sebagian masyarakat Indonesia. Beras dan tepung sorgum, kata dia, juga sangat sesuai untuk pangan masyarakat perkotaan yang mengalami kelebihan nutrisi.

“Kandungan pati sorgum sebagian berupa resistant starch yang tidak mudah dicerna sehingga dapat mengenyangkan lebih lama tanpa menambah kalori. Sorgum juga mempunyai indeks glikemik antara 50-60 yang lebih rendah dari beras dari padi sehingga tidak cepat menaikan gula darah,” ucap dia.

Sorice adalah singkatan dari sorghum rice atau beras sorgum yaitu nama yang diberikan bagi varietas sorgum yang dikembangkan oleh tim peneliti IPB University. IPB Sorice adalah varietas sorgum pangan dengan produktivitas tinggi. Varietas sorgum IPB Sorice merah adalah sorgum berbiji merah hasil seleksi dari populasi hasil persilangan galur sorgum introduksi (PI-150-20-A) dan varietas nasional Kawali.

Sementara itu, varietas IPB Sorice putih mempunyai biji berwarna putih dan merupakan hasil seleksi dari populasi hasil persilangan galur introduksi PI-150-20-A dengan varietas nasional Numbu. Varietas IPB Sorice mempunyai keunggulan sebagai varietas yang mempunyai potensi hasil tinggi. IPB Sorice merah mempunyai potensi hasil 7.25 ton per hektare, sedangkan varietas IPB Sorice putih mempunyai potensi hasil 7.07 ton per hektare lebih tinggi dari varietas nasional Numbu dan Kawali.

“Kedua varietas sorgum IPB University ini juga mampu tumbuh baik di lahan kering bertanah masam sehingga dapat mengurangi penggunaan input kapur pertanian jika ditanam di lahan bertanah masam. IPB Sorice telah ditanam di Jawa Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan sebagai bagian dari kegiatan uji multi lokasi,” ujar Desta.

Video Terkait