Peneliti UGM Ciptakan Masker Serat Daun Nanas yang Terurai dalam 3 Hari

Ilustrasi Nanas (Unsplash)

Editor: Putri - Jumat, 5 Agustus 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) berhasil menciptakan masker sekali pakai dari serat daun nanas yang dipercaya lebih ramah lingkungan. Masker tersebut nantinya dapat terurai secara alami (biodegradable) hanya dalam waktu singkat. Selain itu, masker ini juga lebih efektif mencegah infeksi virus.

Dwi Umi Siswanti dan Tiara Putri, peneliti dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan, serat daun nanas terbuat dari sekitar 70 persen selulosa, sehingga mudah terurai. Saat serat dibenamkan ke dalam tanah, hanya dibutuhkan waktu tiga hari bagi mikroorganisme seperti jamur atau bakteri untuk memulai proses degradasi.

Serat daun nanas memiliki tekstur yang lebih halus dibandingkan dengan serat nabati lainnya seperti rami dan abaca. Kelebihan lainnya, serat daun nanas memiliki sutra putih dan berkilau dengan panjang rata-rata sekitar 60cm dan dapat dengan mudah diwarnai dalam berbagai warna yang berbeda.

Para peneliti mengungkapkan, serat daun nanas yang kira-kira sepuluh kali lebih kasar dari kapas, mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin sebagai komponen utamanya. Dengan demikian, masker lebih ringan, mudah dirawat dan menarik karena memiliki penampilan seperti linen.

"Seratnya juga jauh lebih baik daripada kapas biasa karena tidak mengandung banyak bahan kimia berbahaya yang tersisa dari proses pembuatannya. Serat juga dapat secara alami terdegradasi tanpa melepaskan racun berbahaya," kata para peneliti seperi dilansir The Conversation

Hasil penelitian mereka juga menemukan bahwa masker serat nanas lebih efektif daripada masker kain untuk mencegah infeksi. Karena kelebihan itu, serat daun nanas bisa menjadi alternatif yang baik untuk serat plastik yang merusak lingkungan.

"Sebagai peneliti bioteknologi, kami mengusulkan masker sekali pakai biodegradable yang terbuat dari daun nanas untuk mengatasi limbah (masker) terkait pandemi," kata mereka.

Namun diakui, serat nanas tidak sekuat serat plastik, terutama dalam kondisi basah dan lembab. Hal tersebut diakrenakan penetrasi molekul air ke dalam rantai molekul serat selulosa di tanaman, yang mengurangi kepadatan dan kekuatannya.

Bahaya Sampah Masker Sekali Pakai

Kedua peneliti yang juga dosen ini melakukan penelitian tentang masker biogradeable karena fakta bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan peningkatan permintaan masker sekali pakai. Banyaknya penggunaan masker berujung pada masalah sampah plastik global.

Baca Juga: Peneliti UGM Ciptakan Masker Serat Daun Nanas yang Terurai dalam 3 Hari
Hebat, Pelajar Ini Ciptakan Tas Belanja Sinar UV Anti COVID-19



Mengutip laporan kelompok lingkungan OceansAsia pada 2020, satu masker wajah dapat melepaskan sebanyak 173.000 serat mikro per hari ke laut. Sementara sekitar 1,56 miliar masker wajah telah memasuki lautan secara global pada 2020.

Masker wajah terbuat dari kombinasi beberapa jenis plastik terutama polypropylene, yang tidak mudah terurai dan akan tetap berada di lingkungan selama beberapa dekade. Butuh waktu berabad-abad bagi lapisan plastik itu untuk berubah menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

Video Terkait