Mengenal Ecovado, Alpukat Palsu yang Ramah Lingkungan

Ilustrasi alpukat.(pixabay)

Editor: Putri - Rabu, 24 Agustus 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Sering disebut sebagai emas hijau, popularitas alpukat melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Forum Ekonomi Dunia, 11 miliar pon alpukat dikonsumsi setiap tahun di seluruh dunia.

Namun, menanam buah alpukat dinilai kurang ramah lingkungan. Dibutuhkan sekitar 2.000 liter air untuk menanam hanya untuk satu kilogram alpukat, sementara hutan ditebangi untuk memberi ruang bagi pohon alpukat.

Itu sebabnya peneliti yang berbasis di London, Arina Shokouhi, memutuskan untuk mengembangkan alternatif alpukat yang ramah lingkungan. Alternatif alpukat itu Evocado. 

"Ini sebenarnya bisa menjadi solusi positif dan kita harus menerimanya karena kita tahu bahwa kita tidak bisa terus hidup seperti ini," kata Shokouhi.

Mengutip CNN, Rabu (24/8/2022), Ecovado mirip dengan alpukat. Evocado terbuat dari lilin lebah dan pewarna makanan alami yang mengandung bayam dan bubuk arang. Daging buah alternatif terbuat dari empat bahan sederhana: kacang sebagai dasarnya, apel untuk kesegaran, minyak lobak dingin untuk sensasi krim, dan taburan kemiri.

Ecovado dikembangkan sebagai bagian dari gelar master Shokouhi Material Futures di sekolah seni Central Saint Martins. Setelah menemukan konsep tersebut di akhir tahun pertamanya, ia menjalin kerja sama dengan ilmuwan makanan Universitas Nottingham, Jack Wallman.

Jack Wallman telah mempelajari sifat molekuler alpukat untuk memahami apa yang memberikan tekstur krim. Butuh delapan bulan untuk menyempurnakan resep Ecovado, kata Shokouhi. Menciptakan pengganti alpukat yang berkelanjutan dan menarik adalah sebuah tantangan.

"Pilihan bahan sangat terbatas untuk memulai karena saya ingin 100 persen lokal. Itu adalah prioritas pertama saya," kata Shokouhi.

Shokohui ingin Evocado menawarkan manfaat kesehatan dan lingkungan yang berasal dari makan makanan lokal. Kacang polong dan brokoli adalah resep awal pembuatan Ecovado, kata Shokouhi.

Kacang polong, juga dikenal sebagai kacang fava, relatif mudah ditanam dengan sekitar 740.000 metrik ton dipanen di Inggris setiap tahun. Namun, kacang polong secara molekuler berbeda dengan alpukat dan menutupi "bau pahitnya" itu sulit.

Baca Juga: Mengenal Ecovado, Alpukat Palsu yang Ramah Lingkungan
Minuman Isotonik dari Buah dan Sayur, Tanpa Bahan Pengawet dan Kaya Manfaat

Sejak Shokouhi lulus, Ecovado menarik minat calon investor, katanya. Sementara dia masih menyempurnakan Ecovado, dia berharap akhirnya akan dijual di supermarket dengan harga yang sama dengan alpukat asli.

Shokouhi juga telah bereksperimen dengan kacang edamame Jepang dan tertarik dengan gagasan untuk memproduksi Ecovado di negara lain menggunakan bahan-bahan lokal yang berbeda di masa depan.

Video Terkait