Gardellive, Inovasi Mahasiswa ITS Bantu Kembangkan Kebun Komunitas

Skema sensor dan detektor yang diintegrasikan menggunakan artificial intelligence (AI) untuk komunitas kebun hidroponik. (Foto: Istimewa)

Editor: M Kautsar - Kamis, 21 Januari 2021 | 13:15 WIB

SariAgri - Sektor perkebunan sebagai salah satu penopang perekonomian di Indonesia, saat ini juga membutuhkan sentuhan teknologi yang semakin canggih agar mampu bertahan dan terus berkembang di masa pandemi Covid-19.

Berdasar pemikiran tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menggagas sebuah aplikasi Gardellive. Inovasi perkebunan ini mengintegrasikan telepon seluler (ponsel) dan kondisi kebun komunitas dengan memanfaatkan sensor berbasis artificial intelligence (AI).

Menurut ketua tim peneliti, Muhammad Nur Slamet, pengguna aplikasinya akan lebih mudah melakukan transaksi menggunakan aplikasi Gardellive.

“Selain latar belakang perekonomian, ide ini kami gagas dengan harapan dapat menunjang pemenuhan kebutuhan pangan empat sehat lima sempurna bagi masyarakat urban,” kata Slamet, kepada SariAgri, Kamis (21/1).

Menurutnya, kebun komunitas dipilih sebagai objek penerima manfaat karena lahan yang dibutuhkan tidak cukup besar. Penggunaan lahan bersama sebagai kebun komunitas dirasa tepat untuk didorong lebih maju sehingga berkembang di perkotaan.

Gardellive menawarkan berbagai kemudahan dalam satu genggaman. Teknologi ini memudahkan upaya memaksimalkan sistem kebun komunitas berbasis hidroponik dengan menekan besar usaha pekebun dalam memantau tanamannya.

Omet menjelaskan, para pekebun akan dibantu merekap perkembangan tanaman dengan bantuan AI sebagai sensor pendeteksi di lapangan.

“Mulai dari sistem pengairan, pengukuran pH, temperature, dan kelembapan, semua telah terintegrasi melalui Gardellive,” kata dia.

Dari pembacaan sensor berbasis AI itu, pekebun juga disuguhi berbagai solusi penanganan apabila terdapat gejala masalah yang menyerang kebun komunitasnya.

Kemudahan-kemudahan itulah yang ditawarkan Gardellive pada fitur ‘Gardener’ yang diharapkan dapat memberdayakan kemampuan produksi pangan sendiri.

Tak hanya memfasilitasi para pekebun melalui fitur Gardener, Slamet dan timnya juga menaruh fitur Buyers sebagai pelengkap. Melalui fitur ini, masyarakat sekitar akan terhubung kepada para pekebun, dan pekebun pun akan lebih mudah menjajakan hasil panennya.

Jika disederhanakan, imbuhnya, Gardellive adalah aplikasi yang memuat sistem aplikasi jual beli online, track recording, dan layanan antar-jemput.

“Di luar itu, Gardellive menyuguhkan keunggulan berupa kelengkapan data, sistem koperasi dan jualbeli serta teknologi yang digunakan,” urai mahasiswa dari Raha, Sulawesi Tenggara ini.

Dengan kelengkapan data yang disimpannya, rekomendasi-rekomendasi atas masalah perkebunan akan semakin beragam ditawarkan kepada para pekebun. Sementara sistem koperasi, dipasang untuk mempermudah penjaringan konsumen dan stakeholder yang mungkin terkait.

“Pada penyusunan teknologi Gardellive, kami memanfaatkan Artificial Neural Network agar automatisasi kerja sensor, CCTV, pH meter, arduinouno, dan material lain berjalan lancar,” kata dia.

Sistem yang dirangkai sedemikian rupa itu, diharapkan Slamet dan keempat temannya, agar dapat berjalan dan tetap menjaga efektivitas waktu.

Sebagai salah satu alat ukur efektivitas waktu dan langkah kerja, Gardellive pun menyediakan papan timeline dalam layanannya. Layanan ini bermaksud untuk merekomendasikan waktu tepat kapan langkah pemupukan sebaiknya dikerjakan, hingga kapan sebaiknya dipanen.

“Jadwal yang direkomendasikan oleh papan timeline ini mengikuti sistem, berdasarkan potret tanaman yang ditangkap oleh detector di lapangan,” terangnya.

Slamet mengharapkan agar ide yang disusunnya selama empat bulanan ini mendapatdukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Sehingga, dampak di bidang pangan, kesehatan, hingga perekonomian dapat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat urban secara khusus, dan masyarakat Indonesia secara umum.

Maha karya hasil pendampingan dosen Azzah Dyah Pramata ini pun telah berhasil mengantarkan Omet dan timnya yang terdiri dari Adella Fahdarina, Fahira Develin, Ghanistra Yudha, dan Syafira Dewi Irawan berhasil merebut Gold Medal pada ajang internasional, Khayyam Festival dari Annia Association, di Iran pada akhir tahun lalu.