Petani Perempuan, Hasilkan Ratusan Juta dari Teknologi Hidroponik

Lia Dahlia Pengelola Green House Blu-Farm (Foto: Youtube Kementerian Pertanian RI)

Penulis: Rashif Usman, Editor: M Kautsar - Senin, 8 Maret 2021 | 16:40 WIB

SariAgri - Lia Dahlia merupakan seorang petani perempuan milenial yang dikenal dengan kebun hidroponik Blu-farm. Dia adalah mahasiswa lulusan Universitas Budi Luhur yang memilih untuk menjadi petani hidroponik di Kecamatan Pamijahan, Bogor, Jawa Barat.

Awalnya Lia mengaku tidak mengerti terkait budi daya hidroponik. "Benar-benar mulai dari nol hingga cari guru," kata Lia dikutip dari kanal Youtube Kementerian Pertanian.

Sebelum terjun di hidroponik, Lia sempat terjun kegiatan bakti sosial. Tujuannya, menciptakan gang hijau karena banyak sekali gang-gang kumuh di Jakarta.

"Kebetulan baru lulus kuliah, habis itu langsung ditawarin mengelola greenhouse aquaponik yang tidak terurus. Setelah diolah dan dipahami, akhirnya dipercayakan untuk mengelola greenhouse hidroponik mulai dari penanaman, pengemasan penjualan, hingga pengadaan pelatihan," ucap dia.

Untuk pelatihan hidroponik, Lia mengatakan bisa menghubungi via Whatsapp atau Instagram. Ia juga menyediakan alat pelatihan bagi yang berminat.

"Mulai anak sekolah hingga kantoran kami menerima pelatihan," ujar dia.

Lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian hidroponik ini seluas 20 x 20 meter.

Lia mengatakan sejak wabah Covid-19 banyak peminat untuk budidaya hidroponik dibanding budi daya organik. Alasannya, budi daya hidroponik lebih mudah diterapkan di rumah atau ruangan kecil. "Tanaman hidroponik yang penting terkena sinar matahari yang maksimum," ujar dia.

Menurut Lia, hidroponik adalah tanaman yang ditumbuhkan di dalam greenhouse pada umumnya dan tidak menggunakan tanah. Terdapat berbagai macam sistem seperti Nutrient Film technique (NFT) dan Deep Flow Technique (DFT).

"Untuk sekarang kita menggunakan sistem NFT untuk menanam sawi-sawian seperti caisim, pakcoy, kale, tomat dan ceri," ucap dia.

Dalam sistem greenhouse ini, Lia menggunakan kipas otomatis yang menyala otomatis ketika suhu diatas 30 derajat Celcius. Kemudian, ada sistem kelembapan udara dan cooling pad untuk membuat udara di dalam greenhouse.

Hidroponik memiliki penanaman yang lebih singkat dibandingkan tanaman konvensional. Contoh kangkung atau bayam, 15 hari sudah bisa dipanen. Di samping itu, kualitas tanaman juga lebih baik.

"Kualitas daun dari penanaman konvensional biasanya bolong karena serangan ulat, tetapi dengan hidroponik daunnya lebih bersih dan langsung dapat dikonsumsi," kata dia.

Untuk saat ini, Lia berfokus pada tanaman horenso karena harga pasaran cukup tinggi dibanding sayur lainnya seperti bayam atau caisim.
Lia juga menerima suvenir pernikahan seperti buket sayur atau produk lain yang sesuai keinginan pembeli. "Biasanya buket per pot di hargai Rp75 ribu hingga Rp100 ribu," ujar dia.

Baca Juga: Petani Perempuan, Hasilkan Ratusan Juta dari Teknologi Hidroponik
Tingkatkan Produktivitas Urban Farming dengan Teknologi Otomasi Fertigasi



Lia mengatakan bisnis hidroponik memiliki penghasilan yang cukup bahkan bisa membuka lahan lain untuk membantu orang-orang sekitar bekerja. "Modal awal untuk greenhouse ini sendiri sekitar Rp500 juta. Kini modal sudah kembali dan tinggal memperluas lahan untuk merekrut orang-orang di sekitar," ucap dia.

Untuk target, Lia tidak memikirkan seberapa luas lahan yang akan dikembangkan. Tetapi, dia lebih mempertimbangkan manfaat untuk orang di sekitarnya.

Video Terkait