Mahasiswa FTUI Rancang Sistem Akuaponik Kombinasi Hidroponik dan Akuakultur

Mahasiswa FTUI merancang Automated Integrated Aquaponic (AIA) Greenhouse System, sistem akuaponik yang mengombinasikan sistem budi daya tanaman (hidroponik) dan sistem budi daya ikan (akuakultur).

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 10 Maret 2021 | 15:30 WIB

SariAgri - Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) merancang Automated Integrated Aquaponic (AIA) Greenhouse System atau sistem akuaponik yang mengombinasikan sistem budidaya tanaman (hidroponik) dan sistem budidaya ikan (akuakultur) dalam satu sistem terintegrasi ramah lingkungan.

Berkat rancangan itu, Tim FTUI yang terdiri dari Anisya Nurpratina (Teknik Lingkungan angkatan 2017), M. Ramly Novriansyah (Teknik Sipil ’17), Satria Adipradana Parlambang (Teknik Sipil ’17), dan Rizal Firdaus (Teknik Sipil ’17), meraih Juara Dua pada kompetisi tahunan Project Management Institute, Indonesian Chapter, pada 5-7 Februari 2021. Kompetisi yang diadakan secara virtual tersebut diikuti oleh 31 tim dari 14 universitas di Indonesia, Malaysia, dan China.

Rancangan yang tertuang dalam makalah berjudul “Automated Independent Aquaponic (AIA) Greenhouse System” tersebut dipresentasikan di kompetisi Project Management Challange 2020.

Sistem tersebut menerapkan NFT (Nutrient Film System), yang membuat mineral yang dihasilkan ikan disirkulasikan kembali untuk diserap oleh tanaman. Sistem tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem pertanian berkelanjutan yang meminimalkan emisi terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi. Pada area produksi terbatas, diharapkan nantinya akan dapat menghasilkan produk segar dalam jumlah besar.

“Kami menggunakan panel surya untuk menyuplai 50 persen kebutuhan listrik. Kami juga menggunakan sistem rainwater harvesting untuk menjaga pasokan air tetap ramah lingkungan,” ungkap Ramly, ketua tim Tirta Arkara FTUI di Depok, Rabu (10/3).

Diungkapkan, berdasarkan simulasi tim, untuk setiap 100 m2 area produksi, AIA Greenhouse System dapat menghasilkan 754 kg sayuran per bulan dan 160-200 kg ikan per 10 bulan. Panel tenaga surya yang digunakan dapat menghasilkan daya 225—240 kWh per hari. “Dengan biaya diperkirakan sekitar 1.1 miliar rupiah, greenhouse sebagai area produksi dapat dibangun dalam jangka waktu 102 hari,” ujar Ramly.

Sistem ini tidak hanya mengatasi masalah keterbatasan lahan agrikultur, melainkan juga mengatasi masalah yang timbul dari sistem agrikultur konvensional, yaitu efek rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim. Badan Pusat Statistik pada tahun 2018 menyatakan bahwa luas areal persawahan di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,1 juta hektar dibandingkan dengan 7,75 juta hektar pada tahun 2013.

Baca Juga: Mahasiswa FTUI Rancang Sistem Akuaponik Kombinasi Hidroponik dan Akuakultur
Akuaponik, Pilihan Budi daya Rumahan di Tengah Pandemi

Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan pemerataan lahan pertanian yang tersedia dapat mengarah pada masalah ketahanan pangan nasional. Pada 2019, Indonesia berada pada urutan 62 dari 119 negara di dunia dalam indeks ketahanan pangan yang disusun oleh The Global Food Security Index.

Dekan FTUI, Hendri DS Budiono, mengatakan sistem rancangan para mahasiswa tersebut merupakan kontribusi nyata dari FTUI sebagai alternatif solusi yang dihadapi masyarakat Indonesia. “Harapan kami, AIA Greenhouse System dapat membantu menyelesaikan permasalahan keterbatasan lahan pertanian yang saat ini terjadi di kota-kota besar dan daerah padat penduduk di Indonesia, seperti di Pulau Jawa,” pungkasnya.

 

Video Terkait