Inovasi Irigasi Pintar Bisa Siram Tanaman Otomatis Sesuai Kebutuhan

Inovasi irigasi pintar karya alumni ITB (Dok: Pribadi)

Penulis: Andry, Editor: Reza P - Jumat, 12 Maret 2021 | 10:45 WIB

SariAgri - Nugroho Hari Wibowo, Alumni Teknik Fisika ITB tahun 2010, menciptakan sebuah inovasi sistem irigasi pintar untuk petani yang dapat menyiram tanaman secara otomatis sesuai kebutuhan tanaman (precision farming). Inovasi teknologi di bidang irigasi pertanian tersebut ia buat bersama 9 anggota kelompok inti perusahaan BIOPS Agrotekno.

“Kami ingin menghadirkan era baru bagi petani di Indonesia, meningkatkan daya hasil panen baik dari segi kuantitas maupun kualitas,” ucap Nugroho dikutip dari laman resmi ITB.

Sistem inovasi yang dibuat ini bernama Encomotion terdiri dari dua alat, yakni Encomotion Monitoring dan Encomotion Controlling.

Encomotion Monitoring bekerja dengan cara mendeteksi temperatur, cahaya, kelembaban, curah hujan, dan arah angin. Data hasil deteksi tersebut kemudian dikirim ke server dan Dashboard Encomotion melalui jaringan internet. Data yang diterima oleh Dashboard Encomotion tersebut kemudian diproses oleh Encomotion Controlling. Encomotion Controlling akan bertanggung jawab mengatur sistem irigasi tanaman tersebut.

Tanaman sayur dan buah-buahan sangat rentan dengan jumlah penyiraman air. Jika air yang disiram terlalu banyak, akar tanaman bisa menjadi busuk. Namun, jika air yang disiram terlalu sedikit, nutrisi tanaman jadi tidak optimal. Dengan Encomotion, tanaman sayur dan buah-buahan tumbuh dengan seragam, rata-rata luas daun lebih besar, dan diameter batang tanaman pun lebih lebar.

Menurut Nugroho, jika dibandingkan dengan pertanian konvensional, Encomotion mampu meningkatkan 40% produktivitas, menghemat 50% waktu yang dibutuhkan, serta mengurangi jumlah air dan pupuk hingga 40%.  Petani juga  memiliki data mengenai kebutuhan tanamannya secara lebih pasti. Petani dimampukan untuk bergerak sesuai data, bukan sekadar insting.

“Apabila kelembaban tinggi, petani tahu harus mempersiapkan apa untuk menghalau jamur. Apabila hasil panen tidak optimal, petani juga tahu sebab pastinya, semua kegagalan panen bukan hanya karena nasib petani yang sedang jelek,” ujarnya.

Dibimbing oleh LPiK ITB sejak tahun 2016, BIOPS Agrotekno kemudian diberi wawasan bisnis yang lebih banyak. Encomotion kemudian dikomersilkan dengan tiga cara, diantaranya dengan beli putus, sistem sewa, ataupun bagi hasil. Bisnis model ini dinilai lebih tepat mengingat tujuan awal BIOPS adalah menjadi mitra yang saling menguntungkan untuk petani.

Menurut dia, pengembangan sistem ini sejak tahun 2010 dan masih terus melakukan penelitian terkait pengembangan-pengembangan sistem selanjutnya. BIOPS tengah berkutat mempersiapkan Encomotion untuk lahan pertanian yang lebih besar, dan juga memberikan solusi terkait dua masalah pokok pertanian selain penyiraman, yakni hama dan pupuk.

“Pupuk harganya mahal, kalau petani tidak tahu seberapa banyak pupuk yang harus diberikan, takutnya petani malah buang-buang uang ke tanahnya. Makanya sekarang juga lagi mengembangkan kalkulator pupuk,” ujarnya. 

Baca Juga: Inovasi Irigasi Pintar Bisa Siram Tanaman Otomatis Sesuai Kebutuhan
Patut Dicontoh, Begini Konsep Pertanian Berkelanjutan Ala Petani AS

Dia menjelaskan, mengedukasi petani menjadi tantangan terberat untuk BIOPS mengingat mayoritas petani di Indonesia berumur 60 tahun keatas dan hanya lulusan sekolah dasar. Selain itu, BIOPS juga masih punya PR yang harus diselesaikan terkait dampak dari produk temuannya ini. 

“Apabila komoditas sayur dan buah-buahan yang dihasilkan petani melimpah ruah, produktivitas terlampau tinggi, harganya akan jatuh dan petani ujung-ujungnya pun merugi. Maka dari itu, BIOPS juga tengah mengembangkan ekstraksi produk terkait persoalan ini. Jika jumlah komoditas sangat banyak, maka produk sebaiknya diolah, tidak dijual mentah-mentah, oleh karena itu pemberdayaan petani juga menjadi hal yang penting,” ujarnya.

Video Terkait