Manfaatkan Thorium, Mahasiswa ITS Gagas Hidrogen Ramah Lingkungan

Penelitian penggunaan nuklir dan hidrogen sebagai pembangkit energi. (Foto: Istimewa)

Editor: M Kautsar - Senin, 22 Maret 2021 | 15:20 WIB

SariAgri - Masyarakat dunia kini semakin sadar akan pentingnya menggunakan sumber energi terbarukan untuk mencegah terjadinya pemanasan global. 

Turut mendukung semangat tersebut, lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, menggagas inovasi sumber energi berupa produksi hidrogen yang lebih bersih dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan thorium.

Kelima mahasiswa tersebut yakni Michael Adrian Subagio selaku ketua tim, Abdul Quddus Al Kahfi, Bernadus Krisna Brata, dan Muhammad Rafli Revansyah dari Departemen Teknik Kimia, serta Wahyu Febianto dari Departemen Teknik Elektro.

“Inovasi ini menggabungkan sumber energi bersih yaitu nuklir dan teknologi hidrogen,“ kata juru bicara tim, Muhammad Rafli Revansyah kepada Sariagri, Senin (22/3). 

Rafli mengatakan, proses produksi hydrogen yang ada saat ini masih menggunakan metode konvensional dengan steam reforming gas metana yang bersumber dari bahan bakar fosil sehingga menjadi tidak ramah lingkungan.

Untuk itu, lanjut Rafli, timnya membuat sebuah inovasi untuk membuat hidrogen yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Hidrogen tersebut diproses di dalam reaktor nuklir berjenis Molten Salt Reactor dengan menggunakan thorium sebagai bahan bakar.

“Hidrogen ini nantinya dapat digunakan untuk mobil berbahan bakar hidrogen ataupun digunakan di skala industri,“ paparnya.

Rafli menambahkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang biasanya menggunakan uranium bisa menjadi salah satu solusi. Namun keterbatasan cadangan uranium membuat PLTN Uranium ini tidak tepat dibangun di Indonesia.

“Sedangkan thorium ini jumlahnya cukup banyak di Indonesia dan belum dimanfaatkan,” ucap dia.

Rafli menerangkan, salah satu proses produksi hidrogen adalah dengan mengelektrolisis air, di mana elektrolisis ini memerlukan listrik. Pada inovasi ini, listrik yang digunakan berasal dari PLTN yang menggunakan thorium.

“Sedangkan pada metode konvensional, listrik berasal dari pembakaran bahan bakar fosil,” ujarnya.

Melalui inovasi yang berjudul Utilization of Thorium Small Molten Salt Reactor for Nuclear Hydrogen Production as a Green Renewable Energy Solution for Indonesia, tim yang menjadi perwakilan dari tim Spektronics ITS tersebut berhasil meraih medali perunggu pada kompetisi internasional ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2021, bulan lalu.

Rafli juga mengakui dalam proses pengerjaan paper untuk kompetisi tersebut, timnya sempat mengalami kendala.

“Karena reaktor nuklir berbahan bakar thorium yang sudah dikomersialkan belum ada, kami kesulitan dalam pencarian data keamanan dan keefektifannya secara lengkap,” pungkasnya.

Video Terkait