Akibat Penurunan Kualitas Lingkungan, Teknologi Nuklir Dijadikan untuk Perbaiki Fungsi Lahan

Lahan pertanian mengering saat musim kemarau di Kabupaten Kupang, NTT. (ANTARA)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 20 Agustus 2021 | 14:10 WIB

Sariagri - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memanfaatkan teknologi nuklir untuk mendukung upaya perbaikan fungsi strategis lahan, salah satunya dengan remediasi lahan berbasis sumber daya lingkungan dan konsorsium mikroba rizosfer terpilih yang andal, sinergis dan berkelanjutan.

"Perbaikan fungsi strategis lahan dilakukan melalui pendekatan lingkungan melalui perbaikan atau remediasi, perlindungan atau konservasi dan pemanfaatan potensi sumber daya lokal," kata peneliti madya bidang lingkungan di Batan Tri Retno Dyah Larasati, di Jakarta, Jumat (20/8/2021).

Ia mengatakan perubahan iklim, dinamika alamiah dan aktivitas manusia menimbulkan dampak pada penurunan kualitas lingkungan. Itu disebabkan adanya degradasi hayati, kimia dan fisika pada lahan, sehingga menyebabkan peningkatan area lahan suboptimal atau marjinal, lahan tercemar, lahan kritis dan lahan terdegradasi.

Oleh sebab itu, kata dia, fungsi strategis lahan berupa fungsi hidrologis, produktif dan ekologis menjadi terganggu sehingga perlu perbaikan.

Pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung upaya perbaikan fungsi strategis lahan, katanya, dilakukan melalui aplikasi teknologi radiasi dan isotop yakni menggunakan isotop stabil seperti C-13, O-18, dan N-15 untuk identifikasi sumber polutan dan iradiasi gamma.

Ia menjelaskan uradiator Gamma Chamber 4000A - 60Co digunakan untuk stimulasi fungi terseleksi dengan dosis rendah kurang dari 1000 Gray (Gy) dengan kemanfaatan diperoleh peningkatan kemampuan fungi terseleksi seperti aktivitas selulase, lignin peroksidase, dan kitinase.

Iradiator IRKA-60Co digunakan untuk sterilisasi bahan pembawa (carrier) dengan dosis iradiasi gamma 20–25 kGy dengan kemanfaatan diperoleh jaminan kualitas dan sterilitas bahan pembawa yang sesuai dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup mikroba target selama periode penyimpanan dan pendistribusiannya ke lapang.

Sementara pengembangan Inokulan Mikroba Rizosfer (IMR) dilakukan melalui tahapan isolasi, seleksi dan identifikasi. Koleksi kultur mikroba rizosfer terpilih yang telah diperoleh diantaranya adalah Azotobacter sp, Bacillus circulans, Bacillus megaterium, Bacillus stearothermopilus, Bacillus sp, Pseudomonas fluorescens, Aspergillus niger, dan Trichoderma harzianum.

Tri mengatakan proses produksi inokulan mikroba fungsional yang berasal dari koleksi kultur mikroba terpilih dilakukan melalui kultivasi strain mikroba terpilih dalam medium sintetis (broth), kemudian dilakukan subkultur strain mikroba terpilih dalam medium broth dan inokulasi kultur cair strain mikroba ke dalam bahan pembawa atau carrier steril.

Bahan pembawa padat berupa kompos yang disterilkan menggunakan iradiasi gamma dosis 20-25 kGy, sedangkan bahan pembawa cair disterilkan menggunakan uap (autoclave).

Disebutkannya bahwa produk Inokulan Mikroba Fungsional yang telah diperoleh meliputi IMR, Compostar, Trichomix, Lignostar, HCDec dan IPLB.

IMR adalah inokulan konsorsium mikroba rizosfer untuk peningkat kesehatan tanah dan tanaman, pertumbuhan dan hasil tanaman. Paten untuk IMR itu terdaftar dengan Nomor P-00201300407.

Baca Juga: Akibat Penurunan Kualitas Lingkungan, Teknologi Nuklir Dijadikan untuk Perbaiki Fungsi Lahan
Ketua MPR Ingatkan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketahanan Pangan

Sedangkan compostar merupakan inokulan konsorsium mikroba terpilih untuk dekomposisi limbah organik pertanian dan peternakan. Trichomix adalah inokulan konsorsium mikroba terpilih sebagai pengendali hayati (bio-control).

Lignostar merupakan inokulan konsorsium mikroba terpilih untuk delignifikasi biomassa tanaman (lignoselulosa). HCDec adalah inokulan konsorsium mikroba terpilih untuk dekomposer polutan hidrokarbon. Sementara IPLB adalah inokulan konsorsium mikroba terpilih untuk mengikat polutan logam berat, demikian Tri Retno Dyah Larasati.

Video Terkait