Dengan Aplikasi Ini Petambak Tambak Udang Bisa Panen Lebih 40 Ton Per Hektare

Ilustrasi tambak udang. (Foto: Antara)

Editor: Reza P - Sabtu, 8 Januari 2022 | 12:30 WIB

Sariagri - Udang merupakan salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang produksinya tengah digenjot oleh pemerintah, bahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi udang Indonesia bisa mencapai 2 juta ton di tahun 2024.

Tentunya untuk mencapai target tersebut diperlukan beragam inovasi yang dapat memaksimalkan panen udang.

Terbaru, sebuah startup aquatech di Indonesia, Delos berhasil menghadirkan komposisi dan formula yang ideal untuk mengembangkan tambak udang. Startup ini terbentuk dari sebuah tambak udang konvensional Dewi Laut Aquaculture (DLA) di Garut, Jawa Barat.

Delos merupakan penyempurnaan dari siklus ke siklus tambak itu sendiri. Di mulai sejak tahun 2016 hingga kini, DLA terus berinovasi secara digital, dan bermuara pada aplikasi teknologi Delos yang kemudian dikenalkan ke publik.

Dilengkapi dengan teknologi kontrol bernama Aquahero, Delos dirancang sebagai konsultan ahli para petambak udang.

Melalui keterangan resminya, CEO Delos Guntur Mallarangeng mengatakan bahwa Delos mampu meningkatkan hasil panen udang DLA secara signifikan.

“Kami berhasil memaksimalkan budidaya, dengan tebaran 180 ekor per meter persegi, rasio konversi pakan di bawah 1.5 dan survival rate di atas 85 persen, yang akhirnya kami dapat melebihi 40 ton per Hektare dengan lama budidaya 90 hari," ujarnya.

Selain itu, inovasi Delos ini juga mampu menghitung seberapa besar pemberian pakan yang ideal, sehingga para petambak tak berlebihan dalam pakan dan membuang banyak biaya.

Hasil akhirnya pun mampu mendapatkan nilai Rasio Konversi Pakan (FCR) yang baik di bawah 1,5. Dengan begitu, udang akan tumbuh sesuai dengan bobot yang ditargetkan di awal oleh petambak.

"Jika tambak-tambak udang di Indonesia bisa menerapkan sains, teknologi, dan operasional yang terbaru dan terbarukan, maka produktivitas per Hektare para pelaku budi daya di Indonesia akan menjadi lebih kompetitif di ajang global. Peluang ini sangat baik bagi industri perikanan di Indonesia apalagi negara kita adalah negara maritim dengan sumber daya lautnya yang melimpah, bahkan seharusnya bisa melampaui kemampuan maritim negara manapun," jelas Guntur.

Dalam waktu dekat, biasanya petambak udang akan memasuki masa panen parsial. Di tahap ini, Delos akan memberikan rekomendasi terkait kondisi air tambak kepada para mitra, juga jumlah persentase udang yang akan dipanen pada tiap kolamnya, hingga pemberian tambahan vitamin, mineral, dan imunostimulan sebelum panen parsial yang akan disarankan, agar udang yang terpanen nanti memiliki bobot yang lebih padat dan mencegah udang melakukan moulting atau berganti kulit.

Baca Juga: Dengan Aplikasi Ini Petambak Tambak Udang Bisa Panen Lebih 40 Ton Per Hektare
Teknologi Berbasis IoT Tingkatkan Produksi Budidaya Ikan dan Udang

Budi daya udang dengan penerapan teknologinya tentunya bukanlah hal yang mudah. Sangat perlu bagi petambak menyesuaikan mindset dengan aplikasi tersebut. Sebab, bukan berarti ketika teknologi ini diaplikasikan ke dalam tambak udang konvensional, tidak serta-merta langsung berhasil.

"Delos memiliki peran sebagai konsultan ahli yang akan mendampingi petambak dalam berbagai situasi. Lazimnya sebuah tambak udang umumnya, terkadang ada kalanya muncul kondisi krisis atau masalah terjadi. Di saat itulah, Delos mengeluarkan rekomendasi yang harus dijalankan oleh petambak, dan jika kondisi sudah normal maka petambak harus menjalankan rekomendasi dari Delos sepenuhnya," pungkasnya.

Video Terkait