Pakistan Uji Klinis Obat Herbal Cina untuk Pasien Covid-19, Tingkat Kesembuhan Diklaim Capai 82 Persen

Ilustrasi obat herbal (Foto: Pixabay)

Editor: M Kautsar - Senin, 24 Januari 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Pejabat otoritas kesehatan Pakistan melaporkan keberhasilan uji klinis untuk pengunaan obat herbal tradisional Tiongkok untuk mengobati Covid-19, Senin lalu. Pelaporan hasil uji klinis ini berlangsung ketika Pakistan memasuki gelombang kelima pandemi yang disebabkan oleh menyebarnya varian Omicron.

Jinhua Qinggan Granules (JHQG), pengobatan Tiongkok yang dikembangkan oleh Juxiechang (Beijing) Pharmaceutical Co Ltd, sudah digunakan untuk merawat pasien Covid-19 di Tiongkok. “Karena dicoba pada pasien dengan varian Covid-19 yang berbeda, kami berharap itu efektif pada Omicron seperti pada varian lain,” kata Profesor Iqbal Chaudhry, kepala Pusat Internasional untuk Ilmu Kimia dan Biologi (ICCBS) di Karachi, di mana percobaan diadakan.

Baca Juga: Pakistan Uji Klinis Obat Herbal Cina untuk Pasien Covid-19, Tingkat Kesembuhan Diklaim Capai 82 Persen
Jangan Sampai WFH Bikin Wajah Tak Terawat, Ini Bahan Alami Mengobati Jerawat



Mengutip Beijing News, uji coba dilakukan pada 300 pasien yang dirawat di rumah. Mereka akan bekerja pada kasus Covid-19 ringan hingga sedang, menurut Dr. Raza Shah, kepala penyelidik uji coba, yang menambahkan bahwa tingkat keberhasilannya sekitar 82,67 persen.

Uji coba telah disetujui oleh Otoritas Pengaturan Obat Pakistan.

BPOM Masih Teliti Penggunaan Obat Herbal untuk Penyembuhan Covid-19

Ilustrasi ramuan herbal. (freepik)
Ilustrasi ramuan herbal. (freepik)

Di Indonesia, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Reri Indriani mengatakan, herbal sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19 saat ini masih dalam tahap penelitian.

"Saat ini dalam penelitian untuk obat herbal bisa digunakan sebagai terapi tambahan obat konvensional untuk perbaikan pasien Covid-19," ujar Reri mewakili Kepala Badan POM, Penny K Lukito dalam webinar series "Strategi Membangun Brand Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan", Selasa (14/9/2021).

Lebih lanjut, Reri menuturkan, obat tradisional termasuk herbal hingga hari ini menjadi alternatif masyarakat untuk memelihara kesehatan tubuh mereka di masa pandemi walaupun belum ada yang mempunyai indikasi sebagai anti-Covid-19.

Peluang ini kemudian disambut para pelaku usaha produk herbal. BPOM mencatat adanya peningkatan peredaran produk-produk ini secara daring hingga klaim atau promosi seiring peluang peningkatan permintaan dari masyarakat terhadap suplemen kesehatan dan obat herbal.

BPOM mengingatkan pelaku usaha bisa melakukan inovasi dan berkreasi secara bertanggung jawab sehingga tidak menyesatkan masyarakat melalui klaim produk mereka.

"Kami hargai inovasi kreavitas pelaku usaha, tetapi harus dilakukan secara bertanggung jawab. Kreativitas dan inovasi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya, membangun brand produk perlu difasilitasi dan dikawal agar berkembang tetapi tidak bertentangan dengan regulasi yang kami tetapkan," kata Reri.

BPOM memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi administrasi dan penindakan apabila menemukan pelanggaran. Reri menegaskan, tidak ada kompromi terhadap perlidungan kesehatan masyarakat.

Dari sisi tugas dan peran, BPOM juga melakukan pengawasan pre-market dan post market untuk menjamin keamanan mutu dan kemanfaatan produk beredar serta meningaktkan daya saing mutu produk obat dan makanan di pasar lokal maupun global demi mendukung iklim usaha.

Video terkini:

Video Terkait