Jepang Punya Aplikasi Pelacak Anjing Hilang dengan Identifikasi Hidung

Ilustrasi anjing hilang. (Pixabay)

Penulis: Gloria, Editor: Putri - Rabu, 15 Juni 2022 | 18:25 WIB

Sariagri - Sebuah perusahaan ventura di ibu kota Jepang meminta pemilik anjing di seluruh negeri untuk mendaftarkan pola hidung anjing mereka dengan aplikasi yang tersedia di smartphone. Hal tersebut berguna untuk membantu ketika hewan peliharaan mereka hilang.

Melansir Mainichi, setiap anjing memiliki pola hidung yang berbeda seperti halnya sidik jari manusia. Perusahaan S'more Co yang berbasis di Tokyo akan fokus untuk mengembangkan aplikasi pelacak tersebut.

Aplikasi ini menggunakan teknologi untuk mengidentifikasi anjing dari hidungnya, oleh karena itu diberi nama Nose ID. Versi uji coba aplikasi ini dirilis pada 21 Mei 2022.

Sebagai bayangan, sistem ini nantinya menganalisis pola hidung anjing yang hilang dan pola tersebut dapat mengidentifikasi anjing dan pemiliknya. Nantinya aplikasi memberi tahu pemilik tentang keberadaan hewan peliharaan mereka tersebut.

Jadi, jika seseorang menemukan anjing yang hilang dan mengirimkan video hidungnya lewat aplikasi, maka dapat dicocokkan dengan anjing yang terdaftar. Ketika pola hidung anjing cocok, orang yang menemukan hewan itu dan pemiliknya dapat bertukar pesan secara anonim.

Cara mendaftarkan pola hidung anjing dengan memvideokan hidung anjing melalui smartphone. Semakin banyak anjing didaftarkan, akurasi sistem semakin bekerja.

Beberapa pemilik dan hewan peliharaan kerap terpisah dalam suatu insiden seperti bencana. Aplikasi ini diharapkan menjadi alat untuk mencegah pemilik kehilangan anjing mereka.

Untuk itu, pengembang meminta lebih banyak pencinta anjing untuk mendaftarkan hewan peliharaan mereka karena meningkatkan jumlah anjing yang terdaftar dapat meningkatkan akurasi identifikasi.

Pemilihan hidung anjing yang dijadikan sebagai bahan pelacak juga mencontoh pada kehidupan sapi dan sidik jari manusia yang tidak bisa berubah. Pola hidung dan taring sapi tidak berubah ketika tumbuh dewasa.

Maka itu, pola hidung sapi telah digunakan sebagai bukti daging sapi bermerek.

Ide aplikasi ini dipicu berdasarkan pengalaman pribadi pendiri S'more yang takut kehilangan anjingnya. Saat itu, dua tahun yang lalu, alarm kebakaran apartemen yang dihuninya berbunyi. Dia pun langsung membawa hewan peliharaannya dan melesat ke luar.

Selain itu, pada gempa besar Jepang Timur 2011 sejumlah laporan tentang hilangnya hewan peliharaan memenuhi Kota Sendai. Banyak dari mereka yang hilang tidak kembali.

Setiap tahun di Jepang, ada banyak kasus kehilangan hewan peliharaan bahkan saat tidak terjadi bencana. Sekitar 25.000 anjing di seluruh negeri diambil oleh fasilitas seperti pusat perawatan hewan pada tahun fiskal 2020 karena pemiliknya tidak dapat ditemukan.

Meskipun revisi Undang-Undang Kesejahteraan dan Pengelolaan Hewan mulai berlaku pada Juni 2022, yang mewajibkan penanaman microchip pada anjing dan kucing peliharaan agar dapat dilacak pemiliknya, tetapi hanya beberapa fasilitas seperti puskesmas yang memiliki pembaca informasi microchip.

Selain mengontak pemilik, aplikasi ini juga nantinya akan mengirim notifikasi ke pengguna lainnya di area yang ditentukan.

Perusahaan telah mengumpulkan data sekitar 4.000 anjing terutama di wilayah ibu kota dan daerah Kansai di bagian barat negara itu untuk meningkatkan akurasi dalam mengidentifikasi anjing.

Baca Juga: Jepang Punya Aplikasi Pelacak Anjing Hilang dengan Identifikasi Hidung
Presiden Korsel Pertimbangkan Larangan Konsumsi Daging Anjing

Meskipun tidak banyak data yang dikumpulkan di wilayah Kyushu Jepang barat daya, Pemerintah Kota Fukuoka mengadopsi program S'more dalam upaya untuk memecahkan tantangan sosial menggunakan teknologi mutakhir.

Sejak April 2022, para pejabat bersama-sama telah menyerukan pecinta anjing di wilayah tersebut untuk mendaftar dengan aplikasi. Aplikasi Nose ID dapat diunduh secara gratis.

Video Terkait