Buat Protein Alternatif, Cina Perkuat Teknologi Fermentasi dan Berbasis Sel

Ilustrasi - Daging. (Pixabay/Tomwieden)

Editor: Putri - Kamis, 23 Juni 2022 | 19:40 WIB

Para investor dan pembuat kebijakan Cina menunjukkan minat yang tinggi terhadap teknologi fermentasi dan protein berbasis sel. Mereka berharap dapat mendiversifikasi pasokan protein, mengurangi emisi karbon, dan mengatasi tantangan produk daging nabati saat ini.

Mengutip South China Morning Post, Kamis (23/6/2022), mitra strategis Good Food Institute Asia-Pasifik (GFI APAC), GFI Consultancy, menjelaskan bahwa sektor protein alternatif fermentasi di Cina telah mencatat delapan kesepakatan investasi sejak 2020. Total pembiayaannya lebih dari 80 juta yuan atau sekitar Rp177 miliar.

Protein fermentasi dan berbasis sel diharapkan memainkan peran terpadu dalam sistem pangan yang lebih mandiri di Cina. Minat investor terhadap protein alternatif telah meluas ke fermentasi dan teknologi protein berbasis sel, yang lebih cocok untuk pengembangan jangka panjang,” kata lembaga konsultan itu.

Transisi ke sumber protein yang terdiversifikasi sangat penting bagi Cina. Hal tersebut dikarenakan Negeri Tirai Bambu ini menargetkan untuk mengurangi emisi karbon di semua sektor, termasuk peternakan.

Cina juga terancam menghadapi defisit daging sebesar lebih dari 53 juta ton dalam periode 10 tahun dari 2021 hingga 2030.

Dengan investasi dan dukungan yang memadai, protein yang diaktifkan dengan fermentasi hampir dapat mengatasi kekurangan protein global, sekaligus mengurangi degradasi ekologis dan memberikan cita rasa dan rasa familiar yang didambakan konsumen Cina, kata Direktur Pelaksana GFI APAC, Mirte Gosker.

Fermentasi menggunakan mikroba untuk memecah senyawa dan membuat protein dapat digunakan untuk memperbaiki kekurangan produk daging nabati, seperti menambah nilai gizi dan meningkatkan tekstur dan rasa.

Baca Juga: Buat Protein Alternatif, Cina Perkuat Teknologi Fermentasi dan Berbasis Sel
BPS: Nilai Tukar Petani Februari 2021 Turun Tipis 0,15 Persen

Bulan lalu, Cina merilis rencana lima tahun terbaru untuk pengembangan bio-ekonomi. Rencana tersebut mencakup seruan khusus untuk memperluas produksi 'protein sintetis' guna mengurangi tekanan pada sumber daya lingkungan yang ditimbulkan oleh peternakan konvensional dari tahun 2021 hingga 2025.

Dalam sebuah pertemuan di bulan Maret, Presiden Cina Xi Jinping juga mengatakan bahwa negaranya perlu mengembangkan protein dari tanaman dan mikroorganisme atau fermentasi.

Video Terkait